Talkshow

Published on June 7th, 2017 | by admin

0

Tantangan dan Komitmen BKKBN Prov. Sumbar dalam Program Kependudukan dan Keluarga Berencana

Peningkatan jumlah penduduk Sumatera Barat tidak lepas dari perkembangan angka fertilitas (kelahiran) yang tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata total seorang ibu melahirkan pada tahun 1994 adalah 3,19. Angka ini turun menjadi 3 pada tahun 2007 dan terakhir hasil SDKI tahun 2012, TFR Sumatera Barat turun menjadi 2.8. sedangkan TFR nasional pada tahun 2007 sebesar 2,3, dan terakhir tahun 2012 lalu menjadi 2,1, sedangkan Provinsi Sumatera Barat, menempati ranking ke lima tertinggi di Indonesia. Penurunan tingkat kelahiran merupakan langkah tepat yang perlu dilakukan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk di Sumatera Barat.

Dalam talkshow dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prov. Sumbar di Sushi FM (03/04), Yusnani SH, Kabid Hubungan Antar Lembaga dan Bina Lapangan BKKBN Sumbar,  menyatakan satu penyebab tingginya tingkat fertilitas di Sumatera Barat disebabkan oleh relatif tingginya proporsi wanita kawin pada usia muda. Sekitar 11 % wanita usia muda (15-19 tahun)di Sumatera Barat sudah melahirkan bayi. Sekitar 15 % wanita usia muda yang telah mempunya anak berpendidikan tidak pernah sekolah.

Meskipun TFR Sumatera Barat relative tinggi dibandingkan dengan propinsi lainnya, namun laju pertumbuhan penduduk Sumatera Barat relatif rendah. Hal ini disebabkan karena budaya masyarakat Sumatera Barat yang suka merantau, sehingga migrasi keluar dari Sumatera Barat relative tinggi.

Ditambahkan juga oleh Drs. Marda Jendri, Kasubbid Advokasi dan KIE BKKBN Prov. Sumbar, bahwa disisi lain, angka unmet need (pasangan usia subur yang ingin ber KB, tapi tidak terlindungi oleh alat kontrasepsi) juga masih tinggi di Sumatera Barat. Berdasarkan hasil SDKI 1991, unmet need Sumatera Barat sebesar 17,1 % turun menjadi 11,2 % tahun 2007, sementara data terakhir (2012) unmet need Sumatera Barat sebesar 11,58 %.

Ke depannya, ini merupakan tantangan serta menjadi tugas berat bagi pengelola program kependudukan dan KB di Sumatera Barat dalam mengelola masalah kependudukan. Perlu upaya kerja keras untuk mencapai sasaran Millennium Development Goal’s (MDG’s) yang telah disepakati dan juga apa yang telah diamanatkan dalam RPJMN 2010-2014

Dalam talkshow yang dipandu Rendra di program Fusion – Sushi FM tersebut, Marda juga menambahkan bahwa upaya yang akan dilakukan adalah mengajak para calon akseptor KB untuk menjadi peserta KB dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). MKJP itu adalah: peserta KB yang menggunakan MOP (Metode Operasi Pria), MOW (Metode Operasi Wanita), IUD dan Implant, sehingga dapat menurunkan TFR.

Selain dari pada itu, upaya yang dilakukan juga adalah bagaimana cara memperkuat komitmen dengan mitra terkait, karena tanpa adanya bantuan dari pihak manapun, program Kependudukan dan KB tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, seperti dari Dinkes, TNI, PKK, Polri, Toma, Toga, LSOM dan lain sebagainya.

Namun yang lebih penting lagi adalah mengupayakan untuk mendekatkan akses pelayan KB di tengah-tengah masyarakat terutama di  daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan, termasuk daerah kepulauan atau pantai. Mengingat selama ini, daerah tersebut sulit untuk dijangkau dan aksesnya sangat jauh dan medannya yang sangat berbahaya.

Maka disinilah letaknya peran Advokasi dan Komunikasi, Informasi serta Edukasi (AKIE) dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap program kependudukan dan KB, mengingat selama program KB ini berjalan, pengaruh advokasi sangat besar sekali terhadap kemajuan program KB. (Revi)


About the Author



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑
  • My Popup Image Map Example

     

  • E NEWSLETTER RADIO GTS